Langsung ke konten utama

1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1


Ditulis oleh: Sri Widyowati Kinasih, S.Pd

Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Tahun 2022

Kelas 72- Kabupaten Malang-Jawa Timur


            Filosofi Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara

            Dalam buku tua yang berjudul “Karya Ki Hajar Dewantara” penulis menemukan banyak catatan tentang pandangan R. Soewardi Soeryaninrat (Ki Hajar Dewantara) mengenai pendidikan dan pengajaran.

            Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan. Dengan kata lain, bahwa pengajaran adalah sebuah proses mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang dapat bermanfaat bagi kehidupan anak, baik lahir maupun batin.

             Selain pengajaran juga dijelaskan tentang pendidikan yang berarti proses menuntun segala kekuatan kodrat yang dimiliki oleh setiap anak, agar mereka tumbuh menjadi manusia dan anggota masyarakat yang selamat dan bahagia.

            Menurut teori konvergensi, bahwa sejak anak lahir, mereka ibarat kertas putih yang sudah ada coretan meskipun samar. Itulah yang dimaksud dengan kodrat atau fitrahnya. Tugas kita sebagai pendidik adalah menuntun mereka untuk mempertajam potensi baiknya agar dapat memperbaiki laku hidupnya sehingga potensi yang tidak baik bisa hilang sama sekali.

            Ibarat pertanian, sawah adalah sekolahnya, petani adalah pendidiknya, sedangkan siswa adalah padinya.  Tentu saja petani  tidak bisa mengubah padi menjadi jagung. Tapi petani harus merawat pertumbuhan padi dengan baik dengan cara menyiramnya, memupuknya, bahkan membuang gulma yang mengganggu pertumbuhannya. Benih padi pun berbeda satu dengan yang lain. Tidak semua unggul, tapi dengan perawatan yang baik, sudah pasti petani akan menghasilkan padi yang baik pula. Bukankah hasil tidak pernah mengkhianati usaha?

            Lantas bagaimana cara pendidik menuntun siswanya agar berhasil tumbuh dengan potensi baiknya? Tentu saja dengan metode among (=momong-Jw) yang tidak meninggalkan sesanti Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Ketika di depan (sebagai pemimpin) memberi teladan atau contoh yang baik, ketika di tengah ikut berdaya upaya membangun kekuatan, dan ketika di belakang memberi motivasi atau dorongan.

            Tidak hanya itu, bahwa pendidik haruslah paham tentang mendidik anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Kodrat alam di sini bahwa alam Indonesia sangatlah subur selain posisinya yang juga berada di sepanjang garis kathulistiwa. Maka tidak heran jika segala jenis tanaman dengan mudah tumbuh sepanjang tahun. Berbeda dengan negeri Eropa yang hanya pada musim tertentu dapat bercocok tanam, maka sudah menjadi watak orang Eropa untuk hidup hemat. Lain halnya dengan orang Indonesia, karena segala sesuatu dapat diperoleh dengan mudah maka muncullah dua karakter yaitu boros dan suka menolong. Manakah yang harus kita tuntun dalam mendidik anak-anak? Tentu saja kehidupan yang saling tolong menolong harus kita tebalkan dan kita samarkan atau bahkan hilangkan karakter boros supaya kehidupan mereka selamat dan bahagia.

            Bagaimana dengan kodrat zaman? Seiring bergantinya waktu, tentu saja pola pendidikan harus menyesuaikan dengan zaman. Seorang pendidik haruslah berpikiran terbuka dan menerima sesuatu yang baru. Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan itu sebuah keniscayaan. Di zaman tekhnologi canggih, kita dituntut untuk paham agar tidak tertinggal oleh anak didik kita, sehingga kita bisa membersamai, menuntun, membimbing, dan momomg mereka dengan hal yang sama, dengan demikian anak-anak tetap berada di jalur yang benar untuk keselamatan hidupnya.


            Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum mempelajari modul 1.1?

            Sebelum mempelajari Modul 1.1. ini, saya menganggap murid adalah objek dalam suatu sistem pendidikan. Guru adalah satu-satunya pusat pengajaran. Murid harus patuh dan mencapai target minimal sehingga mereka dianggap tuntas dan layak untuk diluluskan.

 

            Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?

            Setelah mempelajari modul ini, tentu saja saya tersadar bahwa dengan metode sebelumnya artinya saya memaksakan kehendak sehingga tidak ada kemerdekaan pada jiwa dan raga anak. Menyesal tentu saja saya rasakan. Dengan berperilaku demikian sama saja saya menjajah murid tanpa berpikir bahwa mereka juga memiliki hak, mereka memiliki kodrat yang harus ditumbuhkan agar semakin baik budi pekertinya, dan mereka bisa menentukan pengetahuan apa yang bagi mereka bermanfaat untuk kehidupannya.

 

            Apa yang dapat segera anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?

            Hal pertama yang saya lakukan adalah memahami karakter setiap anak. Kemudian memahami minat serta bakat mereka. Hal tersebut akan memudahkan saya dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Tidak hanya itu, proses belajar di kelas berangsur beralih, yang tadinya berpusat pada guru, sekarang beralih menjadi berpusat pada murid. Murid saya berikan keleluasaan serta kesempatan untuk mencari tahu tentang ilmu pengetahuan, sedangkan pendidik berdiri sebagai fasilitator yang mengarahkan, membimbing, dan memberi mereka penguatan. Tentunya dengan tetap mempertahankan adab di atas ilmu agar semakin baik budi pekerti mereka.   

 


***

Malang, 01062022

Komentar

  1. Smoga pendidikan kita bisa jauh lebih baik lagi. Semangat dan sukses Bu Wied. 👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terima kasih apresiasinya ☺️🙏

      Hapus
  2. Mantap Bu... 👍
    Semoga guru lebih maju berkarya dan berdedikasi tinggi untuk memajukan siswa yang cerdas, beradab dan berkualitas 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih apresiasinya ☺️🙏

      Hapus
  3. Selalu suka tulisan njenengan

    BalasHapus
  4. Kereen bu wied...iki bedane lek CGP ne penulis... Semangat bu wied...

    BalasHapus
  5. Kerenn....Semoga Sukses terus Dik Jeng

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Voice, Choice, dan Ownership Siswa Kita Akomodir untuk Membentuk Karakter Kepemimpinan pada Murid?

  Koneksi antar materi Modul 3.3 Sri Widyowati Kinasih, S.Pd CGP 5 Kelas 72 Kabupaten Malang Jawa Timur Tahun 2022   Sudahkah Voice (suara), Choice (pilihan, dan Ownership (kepemilikan) Siswa kita akomodir untuk Membentuk Karakter Pemimpin?   Saya merasa semakin senang dan yakin, bahwa marwah guru Indonesia akan kembali jika semua guru Indonesia benar-benar mengimplementasikan Filosofi Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Bahwa setiap anak yang lahir seperti kertas putih dengan tulisan samar, maka tugas guru adalah menebalkan tulisan yang samar tersebut, menebalkan kodrat baiknya untuk kebermanfaatan kelak dalam hidupnya. Tak hanya itu, bahwa metavora mendidik siswa layaknya merawat padi, maka sebagai guru kita harus paham masinmasing karakter siswa, sehingga pembelajaran yang benar-benar berpihak pada murid dapat terwujud. Dengan demikian, pembelajaran tidak melulu intriksi dari guru, tetapi juga bagaimana suara dan pendapat mereka didengarkan dengan ba...

Sudahkah Sekolah Kita Menerapkan Budaya Posistif? Koneksi Antar Materi Modul 1.4 CGP-5 tahun 2022 Kabupaten Malang

  Sudahkah Sekolah Kita Menerapkan Budaya Positif? Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Oleh: Sri Widyowati Kinasih, S.Pd CGP-5 Kelas 72B Kabupaten Malang  Tahun 2022             Bermula dari mimpi. Mungkin seperti itulah gambaran dari visi sekolah kami, “Mewujudkan Peserta Didik yang Berakhlak Mulia, Cerdas, Percaya Diri, Mandiri, Terampil, dan Bersahaja di Lingkungan Sekolah yang Ramah”. Apa yang kami impikan tidak akan terwujud jika budaya positif di sekolah tidak ditumbuhkan dengan baik. Untuk menumbuhkan budaya positif tersebut, tentu saja akan sangat proporsional jika dimulai dari setiap individu. Saya sebagai Calon Guru Penggerak berusaha menjadi contoh bagi rekan guru yang lain dalam   menerapkan disiplin positif sebagai kebutuhan bukan tuntutan. Saya juga mulai mengganti motivasi perilaku berupa hukuman menjadi konsekuensi dan restitusi. Semua dapat kami lakuk...